Mungkin agak telat posting sekarang, tentang Indonesia. Iya saya tau harusnya pas tanggal 17 Agustus atau pas hari nasional. Tapi bagi saya ngomongin Indonesia nggak harus di suatu tanggal atau hari sih, kapan aja bisa selama hati kita masih di Indonesia.
Beberapa hari yang lalu saya baca e-booknya Pandji Pragiwaksono- Nasional Is Me. Sebenernya e-booknya sudah lama tapi saya baru sempat dan tertarik untuk baca. E-booknya bisa di download di sini . Setelah selesai membaca, saya ngerasa kayak lagi dalam persegi empat hitam tapi di salah satu sudutnya masih ada satu titik terang. Kalo gak paham, gini deh, singkatnya saya kayak lagi ngeliat suatu titik terang dan sisi lain dari sebuah kegelapan.
Basically, saya sedikit sepemikiran sama om Pandji ini. Iya cuma sedikit. Kenapa cuma sedikit? Karena saya nggak nasionalis nasionalis banget. Upacara hari Senin yang itungannya cuma berdiri 45 menit dan dengerin orang ngomong, gitu aja saya males banget. Masih suka dengerin lagu luar meskipun gak sesering dengerin lagu Indonesia. Kalo yang ini sih saya rasa masih sah-sah saja selama itu untuk refrensi. Masih suka banget pake barang yang bukan buatan Indonesia. Kadang juga masih ikut-ikutan temen yang hobinya ngomentarin pemerintah.
Tapi kalo boleh mengkategorikan diri saya sendiri saya yakin saya masih meiliki rasa nasionalisme yang cukup. Kenapa? Karena saya gak benci kangen band atau ST12 karena musik mereka. Saya gak benci pecel atau rendang karena makanan tersebut sangat enak. Saya gak benci film Indonesia yang diwarnai film horror 'yang semakin gak jelas' toh menurut saya masih banyak film Indonesia yang bisa ditonton dan gak kalah bagus sama film luar negeri. Saya adalah remaja yang suka menonton Minggu Pagi di Victoria Park atau Tendangan dari Langit di saat remaja yang lain pada nonton Transformers atau drama-drama Korea yang mulai menjamur. Saya adalah remaja yang sangat menyukai RAN, Glenn Fredly, Tompi, dan Mocca di tengah kegilaan saya pada Jason Mraz di saat remaja-remaja lain mendengarkan MCR, Muse, Avenged Sevenfold, dan boyband Korea. Saya sangat ingin berkuliah di Indonesia dibimbing oleh pengajar Indonesia dan tanpa ragu menjadikan itu mimpi saya di saat yang lain bahkan ingin ke luar negeri atau bekerja di sana. Dan bahkan saya lebih ingin berkeliling Indonesia daripada berkeliling dunia. Saya suka seniman Indonesia dan hasil karya mereka. Ibu saya seorang guru bahasa Inggris tetapi jujur saja saya lebih mencintai bahasa Indonesia daripada harus belajar TOEFL ESP atau apapun itu, makanya sampai detik ini saya gak mahir-mahir juga heheh :) Tapi saya juga bukan remaja yang berpikiran dangkal yang menutup diri dengan globalisasi. Saya tetap ingin mencari tahu tentang apa yang tidak ada di Indonesia. Tentang apa yang terjadi di luar WIB WITA dan WIT. Saya peduli terhadap semuanya. Saya mau jadi pribadi yang terbuka dalam berbagai budaya. Terbuka dan menyaring. Memilah dan memilih.
Banyak dari teman-teman dan orang-orang sekitar saya yang sangat skeptis sama Indonesia, pemerintahannya, bahkan juga budayanya. Mereka bilang budaya Indonesia gak bakalan maju. Indonesia gak bakalan bisa bikin film animasi kayak buatan Pixar. Indonesia gak bakalan maju di industri musik karena semuanya pada ikut-ikutan dan pada jadi mesin fotocopy dadakan. Mereka bilang sineas Indonesia gak bakalan bisa bikin film bermutu. Mereka bilang orang-orang Indonesia mindsetnya udah gaktau rusaknya kayak gimana. Orang Indonesia cuma suka demo, tawuran, dan melakukan tindakan-tindakan kriminal. Dalam hati sih saya bertanya bukannya mereka orang Indonesia juga? Mereka bilang pemerintah Indonesia itu gak bakalan bisa memulihkan keadaan Indonesia kayak dulu. Korupsi merajalela dan makin banyak masalah yang terjadi di Indonesia. Tiap di kelas dan pas saya lagi liat foto Bapak Presiden di dinding, saya jadi ikut sedih. Saya tau beliau nggak tinggal diam. Beliau juga lagi susah pasti, sedikit banyak beliau berharap pada generasi muda seperti kita ini. Dan saya nggak bisa bayangin gimana bakal lebih susahnya beliau kalo tau bahwa generasi yang beliau harapkan pun tidak bisa memiliki harapan yang baik akan Indonesia? Di sini saya jadi prihatin tapi nggak sampai skeptis. Saya sangat peduli dan optimis akan masa depan bangsa Indonesia.
Waktu kecil, saya memiliki teman main. Sebut saja D. Dia bercita-cita menjadi presiden di saat anak-anak seumuran kami ingin menjadi dokter. Saat SMP saya bertanya lagi apakah ia masih ingin menjadi presiden. Dan ia pun menjawab "YA". Saya lebih dari kagum kepada anak ini. Mungkin hanya satu atau dua orang yang memiliki cita-cita sebagai presiden di usia kami. Dua kali saya mendapati seorang remaja yang memiliki cita-cita yang bagi saya adalah sebuah mimpi yang sangat berat sekaligus mulia. Mereka adalah teman saya-yang kita-sebut dengan-D ini dan seseorang yang mengajukan pertanyaan di Mario Teguh Golden Ways. Mendengar cita-cita mereka saja saya sudah merinding. Saya berharap mereka tetap menginginkan cita-cita tersebut. Saya tau bahwa Indonesia membutuhkan orang-orang yang memiliki kemauan untuk Indonesia. Tapi saya lebih dari tau bahwa Indonesia sangat membutuhkan generasi-generasi untuk menunjukkan kesaktian Pancasila. Indonesia membutuhkan kita. Saya dan Kalian. Saya dan kalian yang tidak hanya bersatu saat Timnas berlaga, saat HUT RI, saat bencana alam datang, atau saat budaya kita di claim negara lain tetapi saya dan kalian yang akan dan mau dan ingin menyiapkan kemerdekaan yang sebenarnya.
Seseorang pernah mengatakan kepada saya bahwa optimis dalam kesanggupan adalah hal yang sangat mudah, tetapi optimis dalam keterpurukkan membutuhkan tenaga yang lebih besar. Kita masih muda. Pilihan ada di depan mata kita. Mau skeptis atau optimis. Mau cuma nonton atau berbuat. Mau cuma protes atau berubah. Mau cuma diam atau menyelesaikan masalah. Mau tetep masa bodo atau peduli. Itu pilihan kamu semua.
Mungkin saya sebagai remaja putri yang belum genap 17 tahun terlihat sangat idealis atau sok tau dalam postingan ini. Namun saya hanya mencoba menyalurkan pemikiran saya. Tidak banyak yang dapat saya lakukan sekarang salah satunya mengajak setiap kamu yang membaca posting ini untuk menciptakan perubahan demi Indonesia.
Saya optimis Indonesia akan berubah. #IndonesiaUnite
Lily Elserisa ( 16 tahun yang masih suka galau di twitter dengan beribu harapan untuk hari yang lebih baik )
Tuhan memberkati :)
Seseorang pernah mengatakan kepada saya bahwa optimis dalam kesanggupan adalah hal yang sangat mudah, tetapi optimis dalam keterpurukkan membutuhkan tenaga yang lebih besar. Kita masih muda. Pilihan ada di depan mata kita. Mau skeptis atau optimis. Mau cuma nonton atau berbuat. Mau cuma protes atau berubah. Mau cuma diam atau menyelesaikan masalah. Mau tetep masa bodo atau peduli. Itu pilihan kamu semua.
Mungkin saya sebagai remaja putri yang belum genap 17 tahun terlihat sangat idealis atau sok tau dalam postingan ini. Namun saya hanya mencoba menyalurkan pemikiran saya. Tidak banyak yang dapat saya lakukan sekarang salah satunya mengajak setiap kamu yang membaca posting ini untuk menciptakan perubahan demi Indonesia.
Saya optimis Indonesia akan berubah. #IndonesiaUnite
Lily Elserisa ( 16 tahun yang masih suka galau di twitter dengan beribu harapan untuk hari yang lebih baik )
Tuhan memberkati :)





































